TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebanyak tujuh dari sebelas kabupaten/kota di Provinsi Jambi saat ini tengah menghadapi situasi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini menuntut upaya pemadaman dan pendinginan yang intensif dari tim gabungan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengonfirmasi adanya sejumlah titik api yang terus dipantau dan ditangani. Fokus utama saat ini adalah pada operasi pemadaman untuk mengendalikan penyebaran api lebih lanjut.
Meskipun demikian, Bachyuni Deliansyah menyatakan bahwa data terbaru mengenai lokasi kebakaran dalam satu bulan terakhir belum dapat dirangkum secara detail. Hal ini dikarenakan tim gabungan masih sepenuhnya terkonsentrasi pada upaya penanganan di lapangan.
"Satu bulan terakhir belum (didata). Tim masih melakukan operasi pemadaman dan pendinginan, jadi belum dapat dihitung," ujar Bachyuni Deliansyah, saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (14/8/2026).
Namun, data akumulasi yang berhasil dihimpun sejak 1 Januari 2026 hingga 9 Agustus 2026 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Luas total lahan dan hutan yang terbakar di Provinsi Jambi telah mencapai angka 300,12 hektare.
Luasan kebakaran ini tersebar di berbagai wilayah, menyentuh tujuh dari total sebelas kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jambi. Skala kejadian ini menunjukkan dampak yang signifikan terhadap lingkungan dan potensi kerugian yang ditimbulkannya.
Upaya pemadaman dan pendinginan yang dilakukan oleh tim gabungan menjadi krusial dalam mencegah meluasnya dampak kebakaran. Koordinasi antar instansi terkait terus ditingkatkan untuk memastikan penanganan yang efektif dan efisien.
Situasi karhutla di Jambi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, terutama menjelang musim kemarau yang rentan memicu kejadian serupa.
Dikutip dari Kompas.com, tim gabungan masih berupaya keras mengendalikan dan memadamkan api yang melanda berbagai wilayah.