TIMESINDONESIA.MY.ID - Di tengah deru notifikasi yang tak henti, layar ponsel Rini seolah tak pernah sunyi. Pesan singkat dari aplikasi e-commerce terus berdatangan, menawarkan berbagai macam potongan harga dan gratis ongkos kirim.

Dibuat seolah berpacu dengan waktu, promosi harian ini dengan lihai mengetuk layar gawai, membujuk Rini untuk memilih barang-barang yang sedang ditawarkan.

Menariknya, di saat tekanan ekonomi kian terasa mencekik, platform e-commerce justru menjelma menjadi pelarian singkat bagi banyak orang. Termasuk ibu rumah tangga seperti Rini, yang mencari kepuasan sesaat dari aktivitas berbelanja daring.

"Kalau saya sering terjebak diskon di e-commerce," ungkap Rini dengan senyum tipisnya, pada Selasa (21/7/2026).

Perempuan yang berdomisili di Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini merasakan, keputusan untuk berbelanja kini hanya berjarak beberapa ketukan jempol saja.

Kemudahan fitur pembayaran yang ditawarkan, termasuk opsi pinjaman instan atau "pay later", semakin mengaburkan batas antara kebutuhan yang mendesak dan keinginan sesaat yang datang tiba-tiba.

Hal ini menciptakan sebuah siklus di mana pembelian impulsif menjadi lebih mudah dilakukan, terlepas dari kondisi finansial yang sebenarnya.

Kecenderungan ini dapat memicu beban finansial yang tidak terduga, terutama ketika tagihan datang di akhir bulan.

Dilansir dari Kompas.com, fenomena ini menunjukkan bagaimana strategi pemasaran digital e-commerce mampu memengaruhi perilaku konsumen.