TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menyebabkan banyak warga terpaksa mengungsi. Mereka kini tersebar di berbagai posko pengungsian yang disediakan oleh pemerintah maupun secara mandiri.
Kebutuhan dasar para pengungsi ini masih sangat beragam di setiap wilayah terdampak. Laporan dari beberapa daerah menunjukkan bahwa prioritas utama masih tertuju pada ketersediaan pangan.
Namun, selain makanan, terdapat pula kebutuhan mendesak lainnya. Fasilitas dasar di lokasi pengungsian menjadi perhatian penting untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan para pengungsi.
Di Kabupaten Sikka, salah satu tantangan yang dihadapi adalah akses transportasi. Ruas jalan Waigete-Galit, khususnya di kawasan Kali Buwer, tertutup akibat longsoran tanah dan batu pasca gempa.
Kondisi ini mengganggu mobilitas dan penyaluran bantuan ke Desa Egon Gahar di Kecamatan Mapitara. Akses yang terputus menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan warga di sana.
Dikutip dari Kompas.com, para pengungsi korban gempa NTT di sejumlah wilayah terdampak masih membutuhkan perhatian terkait kebutuhan dasarnya. Mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, tenda hingga fasilitas sanitasi.
Diketahui, dampak gempa magnitudo 7,7 tersebut membuat warga di sejumlah kabupaten mengungsi, baik di posko yang disediakan pemerintah maupun secara mandiri.
Berdasarkan laporan dari sejumlah wilayah terdampak, kebutuhan para pengungsi gempa NTT belum sepenuhnya sama.
Secara umum bantuan pangan menjadi yang utama. Meski begitu terdapat pula kebutuhan terkait fasilitas dasar di tempat pengungsian.