TIMESINDONESIA.MY.ID - Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini tengah dilanda musim kemarau yang semakin mencekam. Kondisi kekeringan ekstrem melanda sejumlah wilayah, meninggalkan jejak memilukan berupa sungai-sungai yang mengering dan ribuan warga yang berjuang mendapatkan air bersih.

Salah satu saksi bisu dari keganasan kemarau ini terlihat jelas di aliran Sungai Avour yang melintasi Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar. Kehidupan yang biasanya mengalir di sungai itu kini hanya menyisakan kenangan.

Pantauan langsung di lokasi pada Selasa (25/6/2024) mengungkapkan pemandangan yang memilukan. Dasar Sungai Avour yang biasanya tergenang air kini terlihat pecah-pecah. Keretakan tanah yang dalam itu bahkan telah ditumbuhi rumput liar, menandakan telah sebulan lebih sungai tersebut tak dialiri air.

Dampak kekeringan ini tidak main-main. Empat unit penyedia air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang selama ini bergantung pada pasokan air dari irigasi Avour terpaksa berhenti beroperasi. Hal ini berujung pada krisis air bersih yang dirasakan oleh ribuan warga di sekitarnya.

Kondisi ini telah berlangsung cukup lama bagi sebagian warga. Turiyah (70), salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kesulitan mendapatkan air bersih telah ia rasakan sejak pertengahan Mei 2024, atau pada bulan Besar dalam penanggalan Jawa.

"Saya sudah susah air bersih ini sejak empat bulan lalu, dari pertengahan Mei," ujar Turiyah.

Kekeringan yang melanda Demak ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah terhadap perubahan iklim dan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Situasi ini membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Situasi ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Upaya penyaluran air bersih terus dilakukan, namun kebutuhan yang masif membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif.

Krisis air bersih yang dialami ribuan warga ini merupakan potret nyata dampak kemarau ekstrem yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Perlunya kesiapsiagaan dan langkah adaptasi yang lebih baik di masa mendatang.