TIMESINDONESIA.MY.ID - Musim kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur kini mulai menunjukkan dampaknya yang signifikan terhadap denyut nadi perekonomian di sepanjang Sungai Mahakam. Aktivitas transportasi sungai, yang menjadi urat nadi utama bagi masyarakat di wilayah hulu, kini terhambat secara drastis.
Kondisi ini terutama dirasakan oleh jalur pelayaran dari Samarinda menuju Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu). Surutnya debit air Sungai Mahakam membuat kapal-kapal pengangkut barang maupun penumpang kesulitan untuk berlayar hingga ke titik tujuan di wilayah hulu.
Akibatnya, sebagian besar kapal terpaksa menghentikan pelayaran di titik-titik tertentu. Muatan yang seharusnya diangkut melalui jalur air, kini harus dialihkan menggunakan moda transportasi darat untuk mencapai tujuan akhir.
Dampak buruk dari situasi ini tidak hanya dirasakan oleh para pemilik kapal dan penumpang yang bergantung pada kelancaran transportasi sungai. Para buruh yang bekerja di dermaga pun turut merasakan kehilangan sebagian besar mata pencaharian mereka.
Di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda, aktivitas bongkar muat yang menjadi sumber penghidupan para buruh mengalami penurunan tajam. Situasi ini menjadi pukulan telak bagi mereka yang menggantungkan nasib pada kelancaran arus sungai.
"Sekitar 75 persen sudah enggak ada, tinggal 25 persen. Kadang-kadang kalau ada, ya 20 persen. Kalau enggak ada, ya enggak ada," ujar Ahmad Gazali (50), seorang buruh di Dermaga Sungai Kunjang, saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (19/8/2026).
Menurut Ahmad, penurunan drastis ini terjadi karena kapal-kapal yang biasa mengangkut barang menuju wilayah hulu Sungai Mahakam kini tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya. Keterbatasan akses akibat surutnya air sungai menjadi penyebab utama terhentinya aktivitas.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi bagi para pekerja dermaga yang bergantung pada volume bongkar muat. Mereka berharap agar kondisi sungai segera membaik agar aktivitas ekonomi dapat kembali normal.
Dikutip dari Kompas.com, fenomena ini menyoroti kerentanan ekonomi lokal terhadap perubahan iklim dan kondisi alam. Penanganan dampak kemarau panjang di kawasan sungai menjadi prioritas mendesak.