TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, menyisakan dampak yang signifikan bagi warga di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Nagekeo. Hingga kini, kebutuhan dasar seperti logistik masih menjadi tantangan serius bagi para pengungsi.
Secara spesifik, warga yang berada di Dusun Marilewa, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, masih menghadapi situasi sulit. Kebutuhan pokok menjadi prioritas utama mereka pasca bencana yang terjadi.
Per tanggal Selasa, 18 Agustus 2026, warga yang mengungsi di lokasi penampungan belum menerima bantuan logistik dari pemerintah daerah. Kondisi ini menambah beban psikologis dan fisik bagi mereka yang telah kehilangan tempat tinggal.
Salah seorang warga, Sima, mengungkapkan bahwa hingga Selasa pagi, belum ada uluran tangan berupa bantuan kebutuhan pokok yang diterima. Keadaan ini membuat warga merasa prihatin dengan kelangsungan hidup mereka.
"Ya, kami sampai saat ini belum ada bantuan dari Pemda. Sudah datang data, tetapi sampai pagi ini belum ada uluran tangan dalam hal ini sembako," ujar Sima.
Menghadapi situasi ini, warga Dusun Marilewa terpaksa mengandalkan sumber daya yang tersisa. Mereka memanfaatkan sisa makanan yang masih tersimpan di rumah masing-masing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami spontanitas makan sisa yang ada di tiap rumah," jelas Sima, mengilustrasikan keterbatasan pangan yang sedang mereka alami.
Situasi ini menyoroti pentingnya respons cepat dan efektif dari pihak terkait dalam menyalurkan bantuan logistik. Keterlambatan distribusi dapat memperburuk kondisi para korban gempa yang sudah rentan.
Pihak berwenang diharapkan dapat segera menindaklanjuti kebutuhan mendesak warga Dusun Marilewa. Akses terhadap sembako dan kebutuhan pokok lainnya sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan para pengungsi.