TIMESINDONESIA.MY.ID - Perasaan pilu menyelimuti Danny Ngantung, ayah dari Kristian Ngantung, usai insiden tragis yang terjadi dalam ajang drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Kejadian yang berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.

Danny Ngantung mengaku sangat terpukul mengetahui adanya korban jiwa dalam peristiwa balap liar tersebut. Kabar awal yang diterima keluarga berfokus pada kecelakaan yang melibatkan putranya, Kristian.

Kekhawatiran utama keluarga pada saat itu adalah keselamatan Kristian. "Begitu kami mendengar bahwa ada kecelakaan, maka yang terjadi adalah bahwa kami merasa sangat khawatir," ujar Danny.

Ia menambahkan, kekhawatiran tersebut semakin membuncah mengingat potensi bahaya dari sebuah kecelakaan. "Sebab kalau kecelakaan, ya... bagaimana nasib dia pada waktu itu," ungkap Danny.

Perasaan keluarga semakin berat ketika informasi berkembang dan diketahui bahwa kecelakaan tersebut berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Situasi ini tentu saja menambah beban emosional yang dirasakan oleh Danny dan keluarganya.

Insiden maut ini terjadi di lokasi yang ramai, di mana ajang drag race diselenggarakan. Peristiwa ini menyoroti kembali isu keselamatan dalam kegiatan balap otomotif yang seringkali menarik perhatian publik.

Detail mengenai kronologi kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia masih menjadi fokus penyelidikan pihak berwenang. Pihak kepolisian terus berupaya mengumpulkan keterangan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut.

Keluarga Kristian Ngantung, meskipun diliputi kesedihan, tetap berupaya tegar menghadapi situasi sulit ini. Fokus utama mereka saat ini adalah dukungan moril bagi Kristian dan pemulihan kondisi pasca-insiden.

Pihak penyelenggara ajang drag race diharapkan dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pengaturan keselamatan dan prosedur yang diterapkan. Hal ini penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.