TIMESINDONESIA.MY.ID - Kampung Barangkolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi lokasi penampungan bagi lebih dari 1.300 jiwa yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Namun, fasilitas posko pengungsian ini menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan dapur darurat. Kondisi yang serba terbatas ini menimbulkan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Keterbatasan dapur darurat berdampak langsung pada pasokan makanan bagi para pengungsi, petugas, serta relawan yang bertugas di lokasi tersebut.

Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, situasi memaksa mayoritas pengungsi untuk mengambil inisiatif memasak sendiri di area tenda masing-masing demi kelangsungan konsumsi harian.

"Waktu awal-awal kami harus tunggu sampai tengah malam untuk dapat makan malam," ujar Nursiah (45), salah seorang pengungsi, kepada Kompas.com pada Rabu (19/8/2026).

Menghadapi situasi ini, warga pengungsi berinisiatif mengolah sendiri bahan makanan yang mereka terima. Menu harian umumnya meliputi nasi, sayuran, dan mi instan.

"Dari hari pertama kita dikasih mi terus. Tidak ada telur," lanjut Nursiah, menggambarkan keterbatasan variasi asupan makanan yang tersedia.

Situasi ini menyoroti kebutuhan mendesak akan peningkatan fasilitas pendukung di posko pengungsian agar kebutuhan dasar para korban bencana dapat terpenuhi secara memadai.

Dikutip dari Kompas.com.