• TIMESINDONESIA.MY.ID -

Pemerintah Kota Magelang tengah menjajaki opsi strategis untuk mengelola tumpukan sampah yang kian mengkhawatirkan. Langkah ini diambil dengan menggandeng Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) dalam potensi kerja sama pemanfaatan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

Teknologi RDF ini diklaim oleh Aspebindo sebagai solusi yang sejalan dengan skema pengelolaan sampah menjadi energi atau waste-to-energy . Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan solusi inovatif bagi permasalahan sampah yang dihadapi Kota Magelang.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyampaikan bahwa Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPSA) Banyuurip saat ini menerima rata-rata kiriman sampah sebanyak 85,2 ton per hari. Angka ini terbilang signifikan dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Namun, Wali Kota Damar Prasetyono mengungkapkan keraguannya terhadap data tersebut. Ia menduga bahwa jumlah sampah yang masuk ke TPSA Banyuurip bisa jadi jauh lebih besar dari angka resmi yang tercatat, bahkan menyentuh ratusan ton setiap harinya.

"Apalagi (TPSA Banyuurip) sudah overload," ujar Wali Kota Damar Prasetyono saat pertemuan dengan perwakilan Aspebindo di Sekretariat Daerah Kota Magelang pada Kamis (13/8/2026).

Kondisi TPSA Banyuurip yang sudah melebihi kapasitas ini membuat Pemerintah Kota Magelang harus mengambil tindakan darurat. Bahkan, mereka telah mengajukan permohonan perpanjangan operasional kepada Kementerian Lingkungan Hidup.

Pertemuan antara Pemkot Magelang dan Aspebindo pada Kamis (13/8/2026) menjadi forum penting untuk membahas detail penjajakan kerja sama ini. Teknologi RDF diharapkan menjadi jawaban atas tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks.

"Kami sampai minta perpanjangan (operasional) ke Kementerian (Lingkungan Hidup)," ungkap Wali Kota Damar Prasetyono, menyoroti urgensi penanganan masalah sampah yang dihadapinya.