TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi peningkatan signifikan jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Total 139 titik panas terdeteksi di provinsi tersebut.
Jumlah ini mengalami lonjakan drastis, meningkat hingga enam kali lipat hanya dalam kurun waktu empat hari terakhir. Fenomena ini terjadi seiring dengan masuknya puncak musim kemarau yang melanda wilayah tersebut.
Selain musim kemarau, peningkatan titik panas ini juga dipengaruhi oleh dampak fenomena El Nino yang sedang berlangsung. El Nino diketahui dapat menyebabkan kondisi cuaca yang lebih kering dan peningkatan suhu udara.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa pemantauan satelit terus dilakukan untuk melacak perkembangan situasi ini. Ia mengonfirmasi adanya penambahan jumlah hotspot dari hari ke hari.
"Berdasarkan data satelit terdeteksi 139 titik panas di wilayah NTB," ujar Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Satria Topan Primadi.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, 13 Agustus 2026, merujuk pada data yang dihimpun oleh BMKG.
BMKG mencatat bahwa peningkatan jumlah titik panas di NTB dalam empat hari terakhir ini sangatlah signifikan.
Situasi ini memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat dan pihak terkait untuk mengantisipasi potensi risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat.
Dikutip dari Antara, data ini menunjukkan urgensi penanganan dampak kekeringan dan potensi bencana terkait.