TIMESINDONESIA.MY.ID - Fenomena erupsi gunung berapi sering kali menyisakan kekhawatiran mendalam bagi warga yang tinggal di area terdampak. Salah satu isu yang paling sering muncul adalah keamanan stok bahan makanan yang terpapar abu vulkanik di ruang terbuka.

Dikutip dari Detik, banyak warga yang mulai mempertanyakan apakah bahan makanan tersebut masih layak untuk diolah dan dikonsumsi. Keraguan ini muncul karena adanya potensi kontaminasi zat kimia berbahaya yang terkandung dalam material vulkanik.

"Banyak warga mempertanyakan apakah makanan yang terkena paparan abu vulkanik masih layak untuk dikonsumsi," ujar sumber dari Detik.

Pertanyaan ini dinilai sangat krusial oleh banyak pihak karena abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini mengandung risiko kesehatan yang nyata jika masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan.

Secara teknis, abu vulkanik merupakan kumpulan partikel batuan halus, mineral, serta sisa gas vulkanik yang terbawa angin. Material ini memiliki tekstur yang sangat tajam dan berpotensi membawa racun jika menempel pada permukaan makanan.

"Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan halus, mineral, dan gas vulkanik yang dapat menempel pada permukaan makanan," ungkap sumber dari Detik.

Dampak buruk akan terjadi jika seseorang secara tidak sengaja menelan partikel-partikel tersebut dalam jumlah tertentu. Hal ini berisiko tinggi mengganggu kesehatan sistem pencernaan manusia secara signifikan.

"Jika tertelan, partikel-partikel tajam dan beracun ini berisiko mengganggu kesehatan sistem pencernaan manusia," jelas sumber dari Detik.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu mencuci bersih bahan pangan atau menutup rapat tempat penyimpanan makanan saat terjadi hujan abu. Langkah preventif ini sangat penting untuk menjaga kesehatan keluarga di tengah situasi bencana erupsi yang sedang berlangsung.