TIMESINDONESIA.MY.ID - Aktivitas perdagangan di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, kini menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Kondisi ini membuat banyak pedagang memilih untuk menutup kios mereka.

Penurunan omzet yang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir menjadi alasan utama ratusan pedagang meninggalkan lapak mereka. Situasi ini juga berdampak pada penerimaan daerah dari sektor retribusi pasar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Rully Edward, mengungkapkan bahwa jumlah pedagang yang masih berdagang saat ini hanya berkisar antara 600 hingga 700 orang.

Angka tersebut jauh menurun dibandingkan tahun 2023, di mana tercatat ada sekitar 1.400 pedagang yang aktif berjualan di pasar tersebut.

"Awalnya waktu 2023 itu penetapan target dari pasar itu sampai Rp 10 miliar," ujar Rully Edward.

Ia menambahkan bahwa target pendapatan tersebut salah satunya berasal dari sektor parkir pasar yang pada masa jayanya bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta dalam satu hari.

Kondisi pasar yang sepi membuat para pedagang kesulitan untuk mendapatkan pelanggan. Tak sedikit dari mereka yang kini terbebani tumpukan utang akibat pendapatan yang tidak lagi mencukupi kebutuhan.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan kelangsungan ekonomi para pedagang kecil di Pasar Rangkasbitung, yang merupakan denyut nadi perekonomian lokal.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mencari solusi konkret untuk membangkitkan kembali geliat Pasar Rangkasbitung dan membantu para pedagang yang terdampak.