TIMESINDONESIA.MY.ID - Pembangunan Bendung Peusangan di Aceh kini tengah digenjot secara masif sebagai bagian integral dari upaya rehabilitasi pascabencana. Proyek vital ini diharapkan dapat memulihkan dan meningkatkan infrastruktur sumber daya air di wilayah terdampak.
Proyek ini mencakup pembangunan bendung utama dan jaringan irigasi yang berfungsi untuk mengendalikan aliran air sungai. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan air yang stabil bagi sektor pertanian dan mencegah potensi banjir di masa mendatang.
Lokasi pembangunan bendung ini berada di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Wilayah ini merupakan salah satu daerah yang terdampak langsung oleh berbagai bencana alam, sehingga pemulihan infrastruktur menjadi prioritas utama.
Proses pembangunan dikebut sejak beberapa waktu lalu dengan target penyelesaian yang ambisius. Upaya percepatan ini dilakukan untuk segera merasakan manfaatnya bagi masyarakat, terutama para petani yang bergantung pada irigasi.
Proyek ini merupakan bagian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang didanai oleh berbagai pihak. Fokus utamanya adalah mengembalikan fungsi-fungsi vital yang rusak akibat bencana alam.
"Kami terus berupaya mempercepat proses pembangunan Bendung Peusangan ini. Tujuannya agar masyarakat segera merasakan manfaatnya, terutama dalam mendukung kegiatan pertanian mereka," ujar Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Djoharuddin Lubis.
Beliau menambahkan, "Pembangunan ini tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang pemulihan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh yang terdampak bencana."
Proyek ini sendiri telah dimulai sejak tahun 2017 lalu. Namun, berbagai kendala pascabencana menyebabkan progresnya mengalami penyesuaian target.
"Kami sadar betul bahwa percepatan ini sangat krusial. Kami berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan," tegas Djoharuddin Lubis.