TIMESINDONESIA.MY.ID - Ketegangan kembali mewarnai kawasan Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo pada Rabu (2/9/2026). Pemasangan pagar seng secara mendadak di beberapa akses utama memicu reaksi dari pihak Paku Buwono (PB) XIV Purboyo.

Dikutip dari Kompas.com, aksi pemagaran tersebut dilakukan oleh pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) pada Rabu sore. Langkah ini dinilai menutup akses vital di dalam area lingkungan keraton.

GKR Dewi Ratih Widyasari, yang merupakan kakak dari PB XIV Purboyo, menyatakan keterkejutannya atas tindakan tersebut. Ia mengaku baru mengetahui pemasangan pagar setelah menerima laporan di lokasi.

"Dari Pakubunan, akses kita semua diseng, tiba-tiba sore-sore saya dapat laporan. Enggak ada maksudnya omongan apa-apa dari pihak sana, tiba-tiba langsung ngeseng ke Langen Katong tadi," ujar GKR Dewi Ratih Widyasari.

Menanggapi situasi tersebut, GKR Dewi Ratih sempat berupaya mencari klarifikasi langsung di lokasi kejadian. Ia bertemu dengan Ketua LDA Keraton Solo, GKR Koes Moertiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng.

Dalam pertemuan singkat itu, GKR Dewi Ratih mencoba menanyakan alasan di balik penutupan akses menggunakan material seng. Ia ingin memastikan apakah langkah tersebut berkaitan dengan rencana revitalisasi keraton seperti yang sempat beredar.

"Saya tanya tadi, sempat ketemu Gusti Moeng. 'Kenapa mesti diseng-seng gitu sih?'," kata GKR Dewi Ratih Widyasari.

Namun, jawaban yang diterima justru berbeda dari isu revitalisasi yang sebelumnya berkembang. Menurut GKR Dewi Ratih, pihak LDA memberikan alasan yang bersifat personal terkait akses masuk.

"Dia jawabnya bukan seperti yang dikatakan laporan sama polisi akan direvitalisasi, bukan. Dia jawab, 'Lah kalian ngembok-ngembok ya aku ngembok-ngembok. Balikno', gitu jawabannya," ungkap GKR Dewi Ratih Widyasari.