TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat pesisir. Terutama di Desa Nuca Molas, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, ratusan warga memutuskan untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman.

Peristiwa alam ini juga sempat memicu peringatan tsunami, menambah kecemasan warga yang tinggal di dekat garis pantai. Tindakan antisipasi pun segera diambil oleh masyarakat setempat demi keselamatan jiwa.

Sebanyak 550 warga Desa Nuca Molas dilaporkan telah mengungsi ke dataran tinggi yang berada di Pulau Mules. Keputusan ini diambil sebagai langkah pencegahan terhadap potensi dampak lanjutan dari gempa.

Para pengungsi tidak menunggu bantuan, melainkan berinisiatif membangun tenda darurat secara mandiri sejak Sabtu pagi. Penggunaan terpal menjadi solusi sementara untuk menciptakan tempat bernaung.

Ketua Pengelola Wisata Bahari Nuca Molas, Sahrul Gerong, mengungkapkan alasan utama di balik pengungsian massal ini. "Warga mengungsi karena khawatir terjadi gempa susulan dan tsunami," ujarnya.

Lebih lanjut, Sahrul Gerong menjelaskan lokasi spesifik tempat warga mengungsi. "Kami mengungsi di dataran tinggi. Saat ini kami di SDI Labuan Taur, karena kami beranggapan di tempat ini lebih aman dan jauh dari pantai," terangnya.

Pernyataan ini disampaikan Sahrul Gerong saat dihubungi oleh tim Kompas.com pada Sabtu malam, memberikan gambaran langsung mengenai situasi di lapangan. Keputusan untuk menjauh dari pantai diambil berdasarkan pertimbangan keamanan.

Upaya mandiri warga dalam membangun tenda darurat menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya kesiapan menghadapi bencana alam. Pengalaman ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah pesisir terhadap aktivitas seismik.

"Mereka membangun tenda seadanya menggunakan terpal," kata Sahrul Gerong, menjelaskan kondisi tenda darurat yang didirikan oleh para pengungsi.