• TIMESINDONESIA.MY.ID - Kecamatan Reok di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengalami dampak signifikan setelah diguncang gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kejadian ini tidak hanya menggetarkan bumi, tetapi juga merenggut kenyamanan hidup warganya.

Pasca-gempa, wilayah Reok mendadak terisolasi. Akses jalan utama sempat terputus total akibat bencana tanah longsor yang dipicu oleh guncangan kuat tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan terputusnya aliran listrik dan jaringan telekomunikasi selama dua hari penuh. Keadaan ini menciptakan suasana mencekam dan menyulitkan koordinasi penanganan darurat.

Ribuan warga Reok memilih untuk mengungsi ke posko-posko darurat yang telah disiapkan sejak hari pertama kejadian. Mereka mencari tempat aman dari potensi gempa susulan yang terus menghantui.

"Pascagempa, warga diliputi rasa trauma," ujar Ayu Febrianti, seorang warga Kampung Raca Barat, Kecamatan Reok. Ia menambahkan bahwa gempa susulan yang terjadi semakin meningkatkan ketakutan di kalangan masyarakat.

Situasi tanpa penerangan ini memberikan gambaran suram bagi kehidupan sehari-hari. "Wilayah Reok seperti kota mati karena tanpa listrik," kata Ayu Febrianti, menggambarkan suasana yang terjadi.

Pada malam hari, warga terpaksa mengandalkan sumber cahaya seadanya. "Pada Sabtu (15/8/2026) malam dan Minggu (16/8/2026) malam warga mengandalkan lampu senter dari ponsel dan senter baterai," urainya.

Keadaan ini menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur dasar seperti listrik dan akses komunikasi dalam kehidupan modern, terutama saat menghadapi situasi darurat bencana.

Dikutip dari Kompas.com, dampak gempa ini menyoroti kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana alam.