TIMESINDONESIA.MY.ID - Konflik pengelolaan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 2.000 hektare di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, kembali memanas. Warga yang terlibat dalam sengketa ini membantah keras klaim PT Agrinas Palma Nusantara mengenai pelaksanaan mediasi dengan masyarakat setempat.

Perseteruan ini telah berujung pada insiden penyerangan terhadap 25 warga, yang mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka-luka. Peristiwa ini menambah panjang daftar ketegangan terkait penguasaan lahan di wilayah tersebut.

Juru Bicara Warga, Abdul Aziz, secara tegas menyatakan bahwa pernyataan perusahaan yang menyebutkan telah melakukan upaya mediasi tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Ia menilai adanya upaya pemutarbalikan fakta terkait akar permasalahan yang sebenarnya.

"Masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam proses dialog yang diklaim dilakukan oleh PT Agrinas," ujar Abdul Aziz saat diwawancarai wartawan di Pekanbaru pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Pernyataan ini dilontarkan sebagai respons atas klaim perusahaan yang menyebutkan telah berupaya mencari solusi damai. Aziz menekankan bahwa dialog yang sesungguhnya belum pernah terjadi dan melibatkan partisipasi aktif dari warga.

Peristiwa penyerangan yang menimpa 25 warga ini menjadi bukti nyata adanya ketegangan yang serius. Luka-luka yang dialami para korban menunjukkan eskalasi konflik yang tidak dapat diabaikan begitu saja oleh pihak manapun.

Klaim perusahaan tentang mediasi yang telah dilakukan dinilai oleh warga sebagai upaya untuk mengaburkan tanggung jawab dan menciptakan narasi yang berbeda. Hal ini justru memperuncing ketidakpercayaan masyarakat terhadap niat baik perusahaan.

Situasi ini memerlukan penanganan yang lebih serius dan transparan dari semua pihak terkait. Perlu ada upaya rekonsiliasi yang benar-benar melibatkan masyarakat dan mempertimbangkan hak-hak mereka.

"Pernyataan perusahaan terkait upaya mediasi telah memutarbalikkan fakta konflik yang berujung pada penyerangan terhadap 25 warga hingga mengalami luka-luka," tegas Abdul Aziz.