TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari Kompas.com, kecaman keras datang dari Ikatan Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka mengenai insiden kurang menyenangkan yang menimpa salah satu tenaga pendidik setempat. Peristiwa tersebut dinilai telah melukai perasaan dan merendahkan kehormatan para guru agama secara umum pada Rabu (5/8/2026).
Insiden ini melibatkan oknum staf dari Seksi Pendidikan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka sebagai terduga pelaku. Sementara itu, sosok tenaga pendidik yang menjadi korban ujaran tidak pantas tersebut adalah Marselinus Atapuken.
Ketua Ikatan Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka, Laurensius Sentis, memberikan tanggapan serius mengenai permasalahan yang terjadi di Maumere ini. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya meluas ke seluruh komunitas pendidik.
"Peristiwa ini sangat memalukan, merendahkan martabat serta wibawa profesi guru, dan seolah-olah menganggap guru bukan lagi sebagai manusia," kata Laurensius Sentis.
Mengenai pemicu terjadinya insiden tersebut, Laurensius menduga ada keterkaitan dengan langkah advokasi yang sedang ditempuh para pendidik. Permasalahan verbal ini disinyalir muncul akibat kekecewaan atas pengawalan hak-hak finansial para guru.
"Penghinaan tersebut diduga kuat tidak terlepas dari perjuangan para guru agama yang menuntut kepastian pembayaran Tunjangan Profesi Guru," ujar Laurensius Sentis.
Selama beberapa bulan terakhir, para guru agama Katolik di Kabupaten Sikka memang berhadapan dengan ketidakpastian informasi mengenai pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Pihak Kemenag setempat belum memberikan kejelasan resmi terkait kapan hak tersebut akan direalisasikan.
Sebelumnya, para guru sempat berinisiatif mendatangi kantor secara langsung demi mendapatkan ruang dialog dengan Kepala Kantor Kemenag Sikka. Namun, upaya audiensi untuk meminta penjelasan transparan tersebut justru mendapat penolakan saat mereka tiba di lokasi.