TIMESINDONESIA.MY.ID - Di tengah riuh rendah sorak-sorai penonton pertandingan sepak bola antar kampung, sebuah suara lain mampu menembus kebisingan. Suara tersebut berasal dari pinggir lapangan Desa Kajongan, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Suara itu lantang menyerukan nama seorang pemain, "Bodan... Bodan... Bodan!". Tempo bicara sang penyeru kian cepat seiring dengan intensitas serangan yang dibangun di lapangan hijau.
Ketika peluang mencetak gol tercipta, seruan itu berubah menjadi lebih mendesak, "Tembak... ooh, masih lebar jauh!". Nada suara meninggi, mencerminkan ketegangan yang dirasakan ribuan pasang mata.
Peristiwa ini terjadi saat laga Grand Final Karang Taruna Cup VII Kecamatan Kajen tahun 2026. Di momen krusial tersebut, peran komentator bukan sekadar pengisi latar, melainkan penentu denyut nadi pertandingan.
Di balik suara yang energik itu adalah Winanto, seorang panitia yang dipercaya mengemban tugas sebagai komentator. Ia menjadi "pengatur irama" bagi jalannya turnamen sepak bola antar kampung tersebut.
Ketika pertandingan berlangsung tenang, Winanto menyajikan narasi yang santai. Namun, saat serangan mulai mengarah ke gawang, tempo bicaranya berubah drastis, seolah ia ikut berlari bersama para pemain di lapangan.
"Bodan... Bodan... Bodan!" seru Winanto, menunjukkan keahliannya dalam membangun atmosfer pertandingan. Suaranya mampu membangkitkan semangat para pemain dan penonton.
"Tembak... ooh, masih lebar jauh!" ujar Winanto dengan nada penuh kekecewaan ketika sebuah peluang terbuang sia-sia. Ucapan ini disambut helaan napas kecewa dari ribuan penonton yang memadati sisi lapangan.
Peran Winanto dalam turnamen ini sangat sentral. Ia tidak hanya melaporkan jalannya pertandingan, tetapi juga mampu mengendalikan emosi penonton melalui intonasi dan pemilihan kata yang tepat.