TIMESINDONESIA.MY.ID - Guncangan kuat bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Laut Flores dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada hari Sabtu (15/8/2026). Kejadian alam ini dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan di wilayah tersebut.
Akibat dari gempa yang berpusat di laut ini, tercatat sebanyak 197 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan. Jumlah ini merupakan catatan awal dari dampak yang ditimbulkan oleh gempa tersebut.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan tersebar di enam wilayah kabupaten yang berbeda. Keenam kabupaten tersebut adalah Sikka, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, dan Ngada.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyatakan bahwa angka 197 rumah rusak tersebut masih bersifat data sementara. Pemerintah daerah masih terus melakukan upaya pendataan di berbagai wilayah yang terdampak langsung oleh gempa.
"Itu data sementara. Data dari Kabupaten Nagekeo belum masuk," ujar Melki Laka Lena saat memberikan perkembangan terkini mengenai penanganan pasca-gempa pada Sabtu malam.
Pemerintah daerah terus berupaya mengumpulkan informasi yang akurat dari seluruh wilayah terdampak. Pendataan ini penting untuk mengetahui skala penuh kerusakan dan merencanakan langkah-langkah penanganan selanjutnya.
Salah satu wilayah yang datanya masih dinantikan masuk adalah Kabupaten Nagekeo. Keterlambatan masuknya data dari daerah tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam proses pendataan di lapangan.
Informasi mengenai jumlah pasti bangunan yang rusak masih terus diperbarui seiring dengan laporan yang masuk dari tim di lapangan. Fokus utama saat ini adalah memastikan semua area terdampak terdata dengan baik.
Upaya penanganan darurat dan pemulihan pasca-gempa terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait. Pendataan kerusakan merupakan langkah awal yang krusial dalam proses tersebut.