TIMESINDONESIA.MY.ID - Tragedi kembali menyelimuti warga terdampak gempa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Dua korban, seorang bayi berusia 10 bulan dan seorang lansia, meninggal dunia saat berlindung di lokasi pengungsian.
Peristiwa duka ini terjadi di Kecamatan Riung, wilayah yang juga merasakan dampak signifikan dari guncangan gempa. Kepergian kedua warga tersebut menambah lapisan kesedihan di tengah upaya pemulihan pasca bencana.
Korban yang meninggal dunia adalah Wilhelmus Separ, seorang lansia berusia 85 tahun, yang merupakan warga Kampung Toring, Desa Tadho Timur. Bersama dirinya, Geraldus Ngala, bayi mungil berusia 10 bulan asal Desa Lengkosambi Barat, juga menghembuskan napas terakhir di pengungsian.
Kapolres Ngada, AKBP Gede Harimbawa, memberikan keterangan mengenai penyebab meninggalnya kedua warga tersebut. Ia menegaskan bahwa kematian mereka bukan disebabkan oleh tertimpa reruntuhan bangunan.
"Korban bukan meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi karena kondisi kesehatan yang menurun saat berada di pengungsian," ujar AKBP Gede Harimbawa kepada Kompas.com pada Senin (17/8/2026) malam.
Lebih lanjut, AKBP Gede Harimbawa menjelaskan mengenai kondisi Wilhelmus Separ. Lansia berusia 85 tahun ini diketahui memiliki riwayat penyakit komplikasi yang memerlukan perawatan rutin.
"Wilhelmus merupakan lansia yang memiliki riwayat penyakit komplikasi dan selama ini rutin menjalani pemeriksaan di Puskesmas Lengkosambi," jelas AKBP Gede Harimbawa.
Penurunan kondisi kesehatan di tengah situasi pengungsian menjadi perhatian utama. Kondisi serba terbatas dan stres pasca-gempa diduga turut memperburuk kesehatan para pengungsi, terutama mereka yang memiliki kerentanan.
Situasi di lokasi pengungsian memang membutuhkan perhatian ekstra, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan lansia. Ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai dan dukungan medis menjadi krusial dalam kondisi darurat seperti ini.