TIMESINDONESIA.MY.ID - Di tengah euforia perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, sebagian masyarakat di Distrik Tomu, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menghadapi kenyataan pahit terkait pemenuhan kebutuhan dasar. Mereka belum sepenuhnya merasakan arti kemerdekaan, khususnya dalam hal akses air bersih yang layak.
Selama bertahun-tahun, tujuh kampung di Distrik Tomu, yaitu Kampung Tomu, Totitra, Ayot, Ekam, Adur, Rejo Sari, dan Wanagir, masih mengandalkan pasokan air hujan untuk seluruh kebutuhan sehari-hari. Ketergantungan ini menimbulkan kerentanan besar saat musim kemarau tiba.
Ketika musim kemarau panjang melanda dan cadangan air hujan mulai menipis, warga terpaksa beralih menggunakan air dari sungai. Namun, air sungai tersebut seringkali keruh, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kualitasnya untuk dikonsumsi.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat letak geografis Distrik Tomu yang berjarak sekitar 50 kilometer dari area eksplorasi gas alam milik BP Tangguh. Jarak yang relatif dekat dengan pusat industri energi ini justru berbanding terbalik dengan ketersediaan akses air bersih bagi masyarakat sekitarnya.
"Selama bertahun-tahun, kami hanya mengandalkan air hujan," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan perjuangan sehari-hari mereka dalam mencari sumber air yang memadai.
"Ketika kemarau panjang datang, persediaan air hujan kami habis, dan kami terpaksa menggunakan air sungai yang keruh," tambahnya, menyoroti dilema yang dihadapi warga ketika sumber air utama tidak lagi mencukupi.
Situasi ini menggarisbawahi adanya kesenjangan dalam pembangunan dan pemerataan akses terhadap fasilitas dasar, meskipun wilayah tersebut berada di dekat salah satu proyek energi terbesar di Indonesia.
Dikutip dari Kompas.com, isu kesulitan akses air bersih di Distrik Tomu ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kemerdekaan hakiki, termasuk hak atas air bersih, masih terus bergulir bagi sebagian saudara sebangsa di tanah air.