TIMESINDONESIA.MY.ID - Sebuah kasus penyebaran konten pornografi yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) atau deepfake baru-baru ini menggemparkan Kota Solo, Jawa Tengah. Korban, seorang mahasiswi berinisial E, dilaporkan mengalami dampak psikologis yang sangat berat akibat beredarnya foto dan video tak senonoh yang merekayasa wajahnya.

Tekanan mental yang dialami E semakin memburuk karena penanganan laporan kepolisian terkait kasus ini dilaporkan berjalan lambat selama berbulan-bulan. Situasi ini menambah beban penderitaan bagi korban yang telah menjadi sasaran kejahatan siber.

Kasus penyebaran konten tak senonoh menggunakan AI ini sebenarnya telah dilaporkan oleh E bersama keluarganya ke Direktorat Reserse Siber (Diresiber) Polda Jawa Tengah. Laporan tersebut diajukan sejak akhir Januari 2026, menandai dimulainya upaya hukum untuk mencari keadilan.

Proses penyidikan baru menunjukkan kemajuan yang signifikan setelah pihak kepolisian menetapkan seorang tersangka. Penetapan tersangka ini dilakukan pada Selasa, 4 Agustus 2026, setelah melalui serangkaian penyelidikan mendalam.

Tersangka dalam kasus ini adalah AIM, yang diketahui merupakan mantan kekasih korban. Hubungan pribadi yang diduga menjadi latar belakang peristiwa ini menambah dimensi lain pada kasus yang kompleks ini.

Kuasa hukum korban, Zainal Abidin Petir, dari LBH Petir, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi psikologis korban. Ia menyatakan bahwa E mengalami guncangan yang hebat saat pertama kali menyadari wajahnya telah direkayasa menjadi konten pornografi.

"E sempat mengalami depresi hingga kehilangan harapan setelah foto dan video tak senonoh berwajah dirinya beredar luas di media sosial X (dahulu Twitter)," ujar Zainal Abidin Petir.

"Pressure mental tersebut kian bertambah lantaran penanganan laporan di kepolisian sempat berjalan lambat selama berbulan-bulan," tambahnya, merujuk pada kendala yang dihadapi dalam proses hukum.

Dikutip dari Kompas.com, kasus ini menyoroti kerentanan individu terhadap penyalahgunaan teknologi AI yang semakin canggih. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada reputasi, tetapi juga kesehatan mental korban.