TIMESINDONESIA.MY.ID - Penulis sekaligus pendiri Mojok.co, Puthut EA, memberikan pandangan mendalam mengenai terminologi unik yang belakangan ini mencuat ke publik. Diskusi tersebut berfokus pada istilah "mentalitet korea" dan "ilmu ndolop" yang digagas oleh Bambang Wuryanto, anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Pembahasan ini berlangsung dalam sesi podcast Gaspol! yang ditayangkan oleh Kompas.com pada Selasa (1/9/2026). Dikutip dari Kompas.com, diskusi ini menggali latar belakang sosiologis di balik istilah-istilah yang kemudian dibukukan tersebut.

Menurut Puthut, istilah "korea" sebenarnya bukanlah kosakata baru dalam khazanah bahasa masyarakat Jawa. Kata tersebut sudah dikenal luas oleh publik sejak dekade 1960-an.

"Istilah korea sedianya merupakan istilah populer di Jawa yang sudah ada sejak tahun 60-an," ujar Puthut EA.

Secara historis, kata "korea" pada masa lampau memiliki konotasi yang kurang baik. Istilah tersebut lazim digunakan untuk menyebut orang dari lapisan masyarakat bawah yang memiliki perilaku menyimpang atau buruk.

Namun, Puthut menjelaskan bahwa Bambang Pacul memberikan transformasi makna baru terhadap istilah tersebut. Definisi yang dibawa oleh Bambang Pacul kini lebih berfokus pada kondisi realitas sosial masyarakat.

"Pak Bambang Pacul membuat definisi baru tentang korea, yaitu orang-orang yang tidak berpunya, orang-orang yang dalam kesulitan hidup yang tinggi, yang tidak tahu nanti mau makan atau tidak," kata Puthut EA.

Analisis ini memberikan perspektif baru bagi masyarakat dalam memahami diksi politik yang sering digunakan oleh para tokoh nasional. Puthut mencoba mengurai bagaimana sebuah istilah dapat mengalami pergeseran makna tergantung pada konteks penggunaannya.

Diskusi ini menjadi salah satu upaya untuk membedah pola pikir atau "mentalitet" yang coba dikomunikasikan oleh Bambang Pacul kepada masyarakat luas. Hal ini menunjukkan pentingnya literasi dalam memaknai setiap jargon politik yang muncul di ruang publik.