TIMESINDONESIA.MY.ID - Dua insiden tragis yang merenggut nyawa terjadi di perairan Bangka Belitung dalam kurun waktu dua minggu terakhir, diduga kuat akibat serangan buaya. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat mengenai keselamatan saat beraktivitas di dekat perairan.

Tim pencari gabungan (SAR) berhasil menemukan jenazah kedua korban dalam kondisi yang memprihatinkan. Tragisnya, predator ganas tersebut dilaporkan masih terlihat berada tidak jauh dari lokasi ditemukannya jasad para korban, menambah unsur dramatis dalam upaya penyelamatan.

Korban pertama yang teridentifikasi adalah Radit, seorang pria berusia 36 tahun. Ia ditemukan meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 2026, dengan kondisi mengapung di area muara Batu Rusa, Bangka.

Radit, yang merupakan warga asal Tempilang, Bangka Barat, diduga kuat menjadi sasaran keganasan buaya saat sedang melakukan aktivitasnya menarik ponton tambang timah. Pekerjaan yang rentan di dekat habitat satwa liar ini akhirnya merenggut nyawanya.

"Jenazah korban ditemukan mengapung di muara Batu Rusa," ujar salah seorang petugas SAR yang tidak ingin disebutkan namanya, mengacu pada kronologi penemuan jasad Radit. Narasi ini menekankan lokasi penemuan yang menjadi titik krusial dalam investigasi.

Kejadian kedua yang menambah daftar korban adalah seorang warga lainnya yang juga dilaporkan tewas diterkam buaya. Detail mengenai korban kedua ini masih dalam proses identifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang setempat.

Pihak kepolisian dan tim SAR setempat terus melakukan patroli intensif di wilayah perairan yang rawan. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya insiden serupa dan memastikan keamanan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai dan muara.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di area yang diketahui sebagai habitat buaya. Edukasi mengenai perilaku buaya dan tindakan pencegahan juga terus digalakkan.

"Kami terus melakukan pemantauan dan patroli di lokasi-lokasi yang dicurigai menjadi sarang buaya," kata seorang perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Belitung. Pernyataan ini menggarisbawahi upaya aktif pemerintah dalam merespons situasi darurat ini.