TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026, masih menyisakan dampak mendalam bagi warga. Tiga hari berselang, tepatnya hingga Selasa, 18 Agustus 2026, sebagian warga masih menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Salah satu dusun yang terdampak adalah Marilewa, yang terletak di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Warga di dusun ini, yang kini mengungsi di tenda-tenda darurat, melaporkan belum diterimanya bantuan kebutuhan pokok dari pemerintah daerah.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pengungsi yang bergantung pada uluran tangan. Mereka mengaku telah mendata jumlah warga yang terdampak bencana alam tersebut.

Namun, hingga Selasa pagi, bantuan berupa sembako yang sangat dibutuhkan belum juga kunjung tiba di lokasi pengungsian. Hal ini membuat warga terpaksa menghemat sisa makanan yang mereka miliki.

"Ya, kami sampai saat ini belum ada bantuan dari Pemda," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, kepada Kompas.com, Selasa siang.

Beliau menambahkan, meskipun proses pendataan warga terdampak telah dilakukan, bantuan nyata dalam bentuk kebutuhan pokok belum diterima. "Sudah datang data, tetapi sampai pagi ini belum ada uluran tangan dalam hal ini sembako," tambahnya.

Situasi ini menyoroti urgensi penyaluran bantuan logistik yang cepat dan tepat sasaran kepada para korban gempa. Keterlambatan distribusi dapat memperburuk kondisi para pengungsi.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera meninjau dan mempercepat proses penyaluran bantuan sembako agar kebutuhan dasar warga Dusun Marilewa dapat terpenuhi.

Dikutip dari Kompas.com, situasi ini menunjukkan tantangan dalam penanganan pasca bencana, terutama terkait logistik.