TIMESINDONESIA.MY.ID - Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi hiruk pikuk transaksi kini diselimuti kesunyian. Pusat Grosir Solo (PGS), sebuah ikon belanja Kota Bengawan, telah mengakhiri perjalanannya.
Gedung megah berlantai lima yang berlokasi di Jalan Mayor Sunaryo, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Jawa Tengah, secara resmi menutup pintunya pada Jumat, 7 Agustus 2026. Penutupan ini menandai berakhirnya kiprah PGS setelah lebih dari dua dekade beroperasi.
Suasana lengang terasa kental menyelimuti bangunan ikonik tersebut pada hari terakhirnya. Para pedagang terlihat sibuk membereskan sisa-sisa barang dagangan mereka.
Mereka memastikan tidak ada satupun barang pribadi yang tertinggal di kios masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai langkah terakhir sebelum meninggalkan tempat yang telah menjadi mata pencaharian.
Penutupan PGS ini merupakan puncak dari berbagai tantangan yang dihadapi pusat grosir tersebut. Perjalanan panjangnya diwarnai masa keemasan, namun juga dihantam badai pandemi yang berujung pada kebangkrutan.
Keputusan penutupan operasional ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan dan upaya. Situasi ekonomi yang sulit dan perubahan pola belanja konsumen turut menjadi faktor krusial.
Perjalanan dua dekade PGS menjadi saksi bisu geliat ekonomi Kota Solo. Banyak pedagang menggantungkan hidup di sana sejak awal berdirinya pusat perbelanjaan ini.
Kini, dengan ditutupnya PGS, para pedagang harus mencari alternatif baru untuk melanjutkan usaha mereka. Dampak penutupan ini tentu akan terasa bagi para pelaku usaha dan juga konsumen setia PGS.
Perjalanan Pusat Grosir Solo dari masa kejayaannya hingga akhirnya harus gulung tikar menjadi sebuah catatan penting dalam sejarah perdagangan di Kota Solo. Berbagai faktor eksternal dan internal tampaknya menjadi penyebab utama keruntuhannya.