TIMESINDONESIA.MY.ID - Kasus keracunan pangan yang menimpa ratusan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Semarang akhirnya menemui titik terang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang telah mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemeriksaan ini dilakukan sebagai respons atas kejadian yang menggemparkan beberapa waktu lalu, di mana banyak siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi hidangan dari program MBG. Hasil laboratorium menjadi kunci untuk mengidentifikasi penyebab pasti insiden tersebut.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengungkapkan temuan mengejutkan dari analisis sampel makanan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri pada beberapa jenis lauk yang menjadi bagian dari menu makan siang para siswa.

"E. coli positif, Staphylococcus positif, kemudian Salmonella positif, terutama pada lauk," kata Abdul Hakam saat ditemui di Balai Kota Semarang pada hari Selasa, 11 Agustus 2026. Pernyataan ini menegaskan adanya unsur patogen dalam hidangan yang disajikan.

Lebih lanjut, Abdul Hakam menjelaskan bahwa sampel yang diuji secara spesifik berasal dari menu protein yang diberikan kepada siswa. Menu protein tersebut meliputi rendang ayam dan telur puyuh, yang merupakan komponen utama dari sajian dalam program MBG.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan sampel protein tersebut positif mengandung bakteri," tegas Abdul Hakam, mengkonfirmasi bahwa kedua jenis lauk tersebut terindikasi terkontaminasi bakteri berbahaya.

Temuan ini memberikan gambaran jelas mengenai sumber masalah keracunan yang dialami oleh para siswa SMKN 6 Semarang. Keberadaan bakteri seperti E. coli, Salmonella, dan Staphylococcus dalam makanan dapat menyebabkan berbagai gejala penyakit pencernaan yang serius.

Informasi ini penting bagi para orang tua dan pihak sekolah untuk memahami akar persoalan dan mengambil langkah pencegahan di masa mendatang. Dinkes Kota Semarang diharapkan terus melakukan pengawasan ketat terhadap program pangan sekolah.

Dikutip dari Kompas.com, hasil pemeriksaan laboratorium ini menjadi dasar untuk evaluasi lebih lanjut terhadap standar kebersihan dan keamanan pangan dalam program MBG. Tindakan perbaikan yang komprehensif perlu segera dilakukan.