TIMESINDONESIA.MY.ID - Musim kemarau yang berkepanjangan saat ini memberikan dampak yang cukup berat bagi sektor pertanian di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu kekeringan yang mengancam ribuan hektar lahan padi milik petani setempat.

Dikutip dari Kompas.com, tercatat sebanyak 2.655 hektar lahan sawah kini berada dalam status terancam gagal panen atau puso. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah mengingat luas lahan yang terdampak cukup signifikan.

Penyebab utama dari ancaman puso ini adalah menyusutnya debit air Sungai Silugonggo secara drastis. Sungai tersebut selama ini menjadi tumpuan utama bagi para petani di wilayah tersebut untuk mengairi lahan pertanian mereka.

"Ada sekitar 2.655 hektar lahan pertanian padi dari 3.057 lahan yang saat ini terancam gagal panen akibat kekeringan," ujar Kepala Dispertan Kabupaten Pati, Ratri Wijayantoi.

Berdasarkan pemantauan Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, dampak kekeringan ini tidak merata di seluruh wilayah. Sejauh ini, fenomena tersebut telah menyebar dan dirasakan oleh petani di lima kecamatan berbeda.

Kecamatan Gabus menjadi wilayah yang paling terdampak oleh krisis air ini dengan total luas lahan mencapai 764 hektar. Sebagian besar lahan yang terancam tersebut terletak di sepanjang bantaran Sungai Silugonggo.

Selain Kecamatan Gabus, wilayah lainnya yang juga terdampak cukup parah adalah Kecamatan Pati dengan luas 706 hektar. Disusul kemudian oleh Kecamatan Margorejo dengan 469 hektar lahan yang mulai mengalami kekeringan.

Wilayah lain yang turut mengalami kesulitan air adalah Kecamatan Jakenan dengan luas terdampak 442 hektar. Terakhir, lahan pertanian di Kecamatan Kayen juga terancam dengan total luas mencapai 210 hektar.

Hingga saat ini, pihak terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan untuk meminimalisir kerugian petani. Masyarakat berharap agar debit air dapat segera kembali normal guna menyelamatkan sisa tanaman yang masih bisa dipertahankan.