TIMESINDONESIA.MY.ID - Kondisi memprihatinkan tengah menyelimuti sektor pertanian di Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Musim kemarau panjang yang terjadi saat ini memicu kekeringan hebat pada areal persawahan warga.
Dikutip dari Kompas.com, fenomena iklim tersebut mengakibatkan banyak petani mengalami gagal panen yang signifikan. Situasi ini diperparah dengan minimnya ketersediaan air yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan tanaman padi.
Kurangnya pasokan air membuat tanaman padi tidak mampu tumbuh dan berkembang secara optimal. Akibatnya, banyak bulir padi yang tidak terisi dengan sempurna sehingga tidak layak untuk dikonsumsi maupun dijual.
Demi meminimalisir kerugian, para petani terpaksa melakukan langkah darurat pada tanaman mereka. Beberapa area yang masih memiliki sedikit harapan tetap dipanen, sementara sisanya harus direlakan.
"Kalau masih ada padi yang bisa diselamatkan, paling kami ambil yang masih bisa. Tapi kalau kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dipanen, biasanya dijadikan pakan ternak," ujar Hanif.
Kondisi tanaman yang sudah mengering dan tidak lagi menghasilkan gabah akhirnya dialihfungsikan oleh petani. Padi-padi yang rusak tersebut kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak agar tidak terbuang sia-sia.
Hanif menjelaskan bahwa upaya penyelamatan tanaman tetap dilakukan oleh petani setempat meski hasilnya jauh dari angka normal. Langkah ini diambil sebagai bentuk ikhtiar terakhir di tengah tantangan cuaca yang sulit diprediksi.
Selain menghadapi penurunan kualitas hasil panen, para petani di wilayah tersebut juga dihadapkan pada beban ekonomi yang berat. Banyak di antara mereka yang terpaksa mengambil langkah berutang untuk menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan.
Peristiwa ini terjadi pada Minggu (30/8/2026), di mana dampak kekeringan semakin nyata dirasakan oleh masyarakat agraris di Pringsewu. Pemerintah setempat diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap nasib para petani yang terdampak.